Halaman

Rabu, 08 Mei 2013

Makalah "Metridium" filum Coelenterata


FILUM COELENTERATA
Metridium (Anemon Laut)

Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Sistematika dan Anatomi Invertebrata
Dosen Pengampu: Siti Mukhlisoh, S.Si., M.Si













Disusun oleh :
Reginia Candra Arinta (103811022)





FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2010

FILUM COELENTERATA
METRIDIUM (Anemon Laut)

I.              PENDAHULUAN
Berdasarkan ada atau tidaknya tulang belakang, dunia hewan (kingdom animalia) terbagi menjadi dua kelompok, yaitu invertebrata (hewan yang tidak bertulang belakang) dan vertebrata (hewan bertulang belakang).
Invertebrata atau avertebrata terdiri dari  beberapa filum, yaitu filum Porifera (hewan berpori), Coelenterata (hewan berongga), Platyhelminthes (cacing pipih), Nemathelminthes (cacing gilik), Annelida (cacing gelang), Echinodermata (hewan berkulit duri), Mollusca (hewan lunak), dan Anthropoda (hewan berbuku-buku).
 Pada makalah ini akan dibahas tentang Metridium dari kelas Anthozoa yang termasuk dalam filum Coelenterata.

II.           RUMUSAN MASALAH
A.      Apa yang dimaksud dengan Coelenterata?
B.       Bagaimana ciri-ciri filum Coelenterata?
C.       Bagaimana klasifikasi Metridium (Anemon Laut) itu?
D.      Bagaimana habitat Metridium?
E.       Bagaimana bentuk dan bagian-bagian tubuh Metridium?
F.        Apa makanan dan bagaimana pencernaan Metridium itu?
G.      Bagaimana respirasi dan ekskresi Metridium?
H.      Bagaimana sistem reproduksi Metridium?
I.         Bagaimana sistem muskular Metridium?
J.         Bagaimana sistem syaraf  Metridium?
K.      Apa peranan Coelenterata?




III.         PEMBAHASAN
A.      Pengertian Coelenterata
Istilah Coelenterata diambil dari bahasa Yunani (Greek); coilos=rongga, enteron=usus. Gabungan istilah tersebut tidak diartikan sebagai hewan yang ususnya berongga. Istilah tersebut juga mengindikasikan bahwa hewan Coelenterata tidak memiliki rongga tubuh sebenarnya, melainkan hanya berupa rongga sentral yang disebut coelenteron. Rongga tersebut berfungsi sebagai rongga pencernaan dan sekaligus berfungsi sebagai pengedar sari makanan. Oleh karena itu rongga tersebut disebut juga sebagai rongga gastrovaskuler. Filum Coelenterata ada beberapa ahli yang menyebutnya dengan istilah Filum Cnidaria.[1] Sebagian besar Coelenterata hidup di laut tetapi ada juga yang hidup di air tawar.[2]
Berdasarkan bentuk dominan dalam siklus hidupnya, Coelenterata diklasifikasikan menjadi 4 kelas:
1.         Hydrosoa, sebagian besar mempunyai bentuk dominan polip dan medusa dalam siklus hidupnya. Contoh: Hydra, Obelia, Physalia.
2.         Scypozoa, mempunyai bentuk dominan medusa dalam siklus hidupnya. Contoh: Cyanea dan Chysaora fruttescens.
3.         Anthozoa, hanya memiliki bentuk polip dalam siklus hidupnya. Contoh: Tubastrea (koral/karang), Metridium (anemon laut) dan Turbinaria
4.         Ctenophora, satu-satunya Coelenterata yang tidak memiliki mematokis. Contoh: Mnemiopsis dan Venus girdle. Hewan ini dapat memancarkan cahaya dari dalam laut gelap (bioluminisen).[3]
B.       Ciri-Ciri Coelenterata
Tubuh hewan-hewan Coelenterata tersusun oleh dua lapis jaringan dan satu lapisan nonselular. Bagian luar berupa lapisan jaringan epidermis dan bagian dalam lapisan jaringan endodermis atau gastrodermis, sedangkan di antara kedua lapisan tersebut ada lapisan nonselular yang disebut mesoglea. Jaringan gastrodermis melapisi rongga gastrovaskular, sementara mesoglea merupakan masa pasta/gudir yang disekresikan oleh sel-sel epidermis dan gastrodermis. Zat-zat tersebut mengisi ruangan antara lapisan epidermis dan gastrodermis. Kadang-kadang di dalam lapisan mesogela ini terdapat sel-sel amoboid. Jadi sebenarnya tubuh Coelenterata terbangun oleh dua lapis germinal, yakni ektoderm dan endoderm.
Bentuk tubuh Coelenterata  memiliki dua tipe dasar, yakni sebagai polip yang sesil atau menempel dan sebagai medusa yang dapat berenang bebas. Tipe polip memiliki bentuk seperti tabung atau silinder, pada ujung oral terdapat mulut yang dikelilingi oleh tentakel-tentakel, dan dapat bergerak memanjang atau mengkerut. Tubuh tipe medusa berbentuk seperti sebuah bel atau lonceng atau seperti payung. Bagian tubuh yang cembung berada di atas dan yang cekung di bawah. Pada bagian tengah dari cekungan tersebut terdapat mulut.[4]
            Secara umum hewan-hewan Coelenterata memiliki ciri-ciri khusus;
1.         Merupakan hewan yang memiliki ronga. Rangka dari zat kapur/zat tanduk.
2.         Radial simetris dengan bentuk berupa medusa (berenang bebas) dan polip (melekat pada dasar menetap). Sifat jenis hermaprodit.
3.         Tubuh mempunyai dua lapisan sel (diploblastik) yaitu;
a.       Ektoderm / epidermis, mengandung sel saraf, sel peraba, knidoblas yang mengandung nematokris penghasil racun hipotoksin.
b.      Endoderm / gastrodermis, sebagai rongga gastrovaskuler (sebagai alat pencernaan makanan sekaligus mengedarkannya ke seluruh tubuh). Di antara kedua lapisan tersebut terdapat mescoler (lapisan non seluler).
4.         Bersifat heterotrof dengan memakan plankon dan hewan kecil di air.
5.         Habitat di air laut maupun air tawar. Berbentuk polip hidup soliter atau berkoloni, melekat pada batu atau lainnya di air laut (sebagai sesil). Dan yang berbentuk medusa berenang bebas di perairan.[5]
6.         Di sekitar mulut terdapat tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa.[6]
C.      Klasifikasi Metridium (Anemon Laut)
Posisi atau kedudukan Metridium dalam jenjang sistematika adalah sebagai berikut:
Filum          : Coelenterata
Kelas           : Anthozoa (Actinozoa)
Sub-kelas    : Hexacorallia (Zoantharia)
Ordo           : Actinaria
Familia        : Sagartiidae
Genus         : Metridium
Spesies        : Metridium marginatum[7]
D.      Habitat  Metridium
Seperti halnya dengan anemon laut lainnya Metridium dijumpai di kawasan laut, mulai dari daerah pantai hingga di kedalaman 99 m, terutama di daerah laut yang airnya hangat (tropik) dan jernih. Metridium merupakan hewan yang menetap di suatu tempat dengan melekatkan diri pada suatu obyek yang berada di dalam laut, misalnya batu karang, tumbuhan laut, bekas cangkang Gastropoda, bahkan ada yang menguburkan diri hingga separuh dari tubuhnya di pasir atau lumpur.
E.       Bentuk dan bagian-bagian Tubuh Metridium
Tubuh Metridium berbentuk silindris dengan bagian oral agak melebar seperti corong yang dihiasi dengan rangkaian tentakel-tentakel yang membentuk seperti mahkota bunga. Panjang tubuhnya sekitar 5-7 cm, tetapi ada juga yang berukuran raksasa hingga 1m. Tubuhnya radial simetris dengan warna yang bervariasi, tetapi biasanya warnanya kecoklat-coklatan atau kekuning-kuningan.
Tubuhnya terbagi menjadi 3 bagian utama, yaitu; bagian diskus pedal atau bagian kaki, bagian kolumna atau skapus atau bagian batang tubuh, dan bagian diskus oral atau kopitulus. Antara bagian diskus pedal dengan bagian skapus dihubungkan oleh apa yang disebut limbus, sedangkan antara bagian skapus dengan bagian diskus oral dihubungkan oleh apa yang disebut kollar atau parapet.[8]
Sistem gastrovaskular dimulai dengan mulut, mulut dihubungkan dengan coelenteron oleh suatu saluran yang berbentuk suatu tabung yang disebut stomodeum atau gullet. Saluran stomodeum tersebut di sepanjang sisinya dilengkapi alur cincin yang bersilia disebut sifonoglifa (“siphonoglyph”). Alur ini merupakan jalan masuknya aliran air ke dalam coelenteron. Rongga coelenteron dibagi menjadi bersekat-sekat oleh 6 buah septa atau mesentris sehingga terbentuklah 6 buah kompartemen (ruang), yang berposisi radial. Air dapat mengalir dari kompartemen satu kelainnya melalui celah yang disebut ostia. Ke 6 buah septa tersebut dinamakan septa primer. Disamping septa primer, masih ada lagi septa yang lain yaitu septa sekunder yang merupakan septa kecil yang menonjol dari dinding tubuh ke dalam rongga (liang) enteron. Septa ini tidak sampai mencapai stomodeum. Di antara septa primer dengan septa sekunder masih ditemukan septa lagi yang disebut septa tersier. Bagian tepi bebas (ujung distal)  dari septa  dalam coelenteron di bagian bawah stomodeum berkembang menjadi bentuk yang tebal yang disebut filament digestial, yang di dalamnya mengandung sel-sel kelenjar penghasil getah pencerna yang mengandung enzim. Dekat bagian dasar dari filament digestif ditemukan benang-benang akonsia (acontia), yang di dalamnya dilengkapi dengan sel-sel kelenjar dan nematokist. Salah satu fungsi dari akonsia adalah untuk mengusir musuh dengan cara akonsia tersebut dijulurkan lebih dahulu melalui pori-pori yang ada pada dinding tubuh hewan yang bersangkutan.
F.       Makanan dan Pencernaan Metridium
Metridium, seperti halnya anemon laut lainnya bersifat                     karnivora. Makanannya berupa invertebrata kecil-kecil lainnya, disamping itu juga berupa  ikan-ikan kecil. Untuk jenis ikan tertentu tidak diganggunya bahkan malah bersimbiosis, jenis ikan tersebut termasuk pada genus Amphirion. Makanan atau mangsanya terlebih dahulu diumpuhkan dengan racun yang dihasilkan oleh nematokist, baru kemudian di tarik ke dalam mulutnya dengan pertolongan tentakel-tentakelnya. Selanjutnya makanan ditelan melalui stomodeum, dan akhirnya sampai di dalam rongga gastrovaskularnya. Di dalam rongga coelenteron makanan tersebut dicernakan oleh enzim yang terkandung di dalam getah pencernaan.
Selanjutnya sari-sari makanan akan diserap oleh dinding gastrodermis, sedangkan bagian atau partikel  yang tidak tercernakan akan dimuntahkan kembali melalui mulutnya. Proses pencernaan makanan berlangsung baik secara ekstraselular maupun secara intraselular. Getah pencerna dihasilkan oleh sel-sel kelenjar yang ditemukan di Bagian filament-digestif, maupun di dalam akonsia. Getah pencerna yang mengandung enzim proteolitik sanggup mencernakkan zat makanan yang berupa protein dan juga zat lemak maupun karbohidrat.
G.      Respirasi dan Ekskresi Metridium
Metridium, seperti halnya Coelenterata lain, tidak mempunyai alat khusus untuk pernafasan maupun pembuangan hasil ekskresi. Dalam hal pernafasan baik pemasukan oksigen yang terlarut di dalam air laut, maupun mengeluarkan gas karbondioksida berlangsung secara difusi-osmosis secara langsung melalui semua permukaan tubuhnya. Yang dimaksud dengan permukaan tubuh ialah baik permukaan epidermis maupun permukaan gastrodermis yang menghadap kearah liang atau rongga gastrovaskular. Dalam hal ini, aliran air yang timbul di dalam saluran gastrovaskular disebabkan oleh gerak sapu dari rambut-rambut getar yang berjajar-jajar di bagian dinding stomodeum maupun dinding gastrovaskular (coelenteron). Gerak rambut getar yang ada pada dinding gastrovaskular menimbulkan aliran masuk, sedangkan gerak rambut-rambut getar yang ada pada dinding stomodeum akan menimbulakan aliran air ke luar. Kedua mekanisme ini sangat membantu dalam hal  pertukaran gas maupun sisa-sisa metabolisme lainnya.[9]


H.      Sistem Reproduksi Metridium
Memetridium mengalami metagenesis, yaitu dengan reproduksi aseksual dan seksual secara bergantian[10]. Perkembangan secara aseksual dilakukan dengan pembentukan kuncup maupun dilakukan secara fragmentasi. Cara fragmentasi dilakukan dengan memutuskan tubuhnya di bagian diskus pedal. Bagian yang membawa diskus pedal akan membentuk bagian diskus oral baru, sedangkan yang membawa bagian diskus oral akan membentuk bagian diskus pedal baru. Tetapi fragmentasi tersebut juga dapat terjadi secara membujur, yang biasa dikenal dengan istilah pembelahan secara biner. Perkembangbiakan secara aseksual dengan cara pembentukan kuncup berlangsung sebagai berikut: mula-mula di bagian kolumna atau skapus timbul semacam tonjolan (benjolan) yang makin berkembang sehingga akhirnya terbentuklah Metridium baru. Metridium anakan tersebut kelak bila sudah tiba saatnya akan melepaskan diri dari tubuh induknya dan hidup secara mandiri.[11]
Pada perkembangbiakan secara seksual Metridium, ada jenis yang bersifat hermaprodit, ada yang berkelamin terpisah. Pada jenis yang hermaprodid, perkembangan antara sel telur dengan spermatozoid tidak bersamaan masaknya. Dengan demikian perkawinan se-telur dengan spermatozoid terjadi secara perkawinan silang. Baik ovum maupun spermatozoid yang telah masak akan dikeluarkan melalui mulutnya dan perkawinannya berlangsung di alam bebas (perkawinan berlangsung secara eksternal di dalam air laut). Dari hasil perkawinan antara sel telur dengan spermatozoid akan terbentuklah zigot. Dari hasil pembelahan zigot tersebut akan terbentuklah coeloblastula. Coeloblastula tersebut selanjutnya dengan proses gastrulasi akhirnya membentuk larva yang berambut getar atau planula. Dengan rambut getarnya, planula akan berenang-renang secara bebas untuk mencari lingkungan hidup baru. Bila sudah menemukan tempat yang sesuai, misalnya ada subtrat untuk melekat dan lingkungan yang cukup makanan, maka planula akan melekatkan diri pada suatu obyek dan tumbuh menjadi polip Metridium baru.
I.         Sistem Muskular (Perototan) Metridium
Anemon laut memperlihatkan berbagai bentuk gerak yang bervariasi. Hal ini berarti pada anemon laut telah ditemukan susunan muskular yang telah mengalami perkembangan lebih sempurna. Susunan muskular ini ditemukan baik di bagian epidermis maupun gastrodermis. Muskular yang ditemukan di bagian epidermis adalah hanya terbatas pada serabut-serabut mamanjang atau longitudinal dan serabut radial. Serabut longitudinal dijumpai pada bagian tentakel, sedangkan serabut radial ditemukan pada bagian diskus oral. Muskular yang dijumpai pada lapisan gastrodermis terdiri atas serabut-serabut sirkular. Serabu serabut sirkular ini dijumpai pada bagian tentakel, diskus oral, skapus dan diskus pedal. Di bagian dinding kollar, serabut sirkular ini menebal dan membentuk apa yang disebut sphincter, dan berfungsi untuk menutup rongga coelenteron yang ada di bagian skapus bila anemon sedang memendekkan tubuhnya.
Disamping itu masih ditemukan lagi susunan muskular yang lain, yaitu otot retraktor. Otot retraktor ini adalah otot longitudinal yang membujur dan menempel pada salah satu permukaan mesenteris (septa) pada bagian tepi sisi dalam. Otot retraktor ini bila berkerut akan menyebabkan memendeknya mesentris, tentakel maupun diskus oral. Selanjutnya itu masih ditemukan sistem otot lain yaitu otot basilar yang membentang secara melintang di bagian permukaan bawah luar dari mesentris. Otot ini bila berkerut akan mendekatkan bagian skapus dengan bagian diskus pedal.
J.        Sistem Syaraf Metridium
Susunan syaraf pada anemon laut sangat sederhana, dan pada dasarnya serupa dengan susunan syaraf pada Coelenterata lainnya. Susunan syarafnya bersistem difus dan belum tampak adanya susunan syaraf pusat. Sistem syaraf tersebut terdiri atas pleksus epidermal dan pleksus gastrodermal, yang masing-masing tersusun atas serabut syaraf dan ganglion yang besar. Pleksus tersebut makin intensif terutama di bagian tentakel, diskus oral maupun stomodeum. Tentang alat indera pada anemon laut ini belum ditemukan yang spesifik.[12]
K.      Peranan Coelenterata
1.    Sebagai sumber makanan dan bahan kosmetik, misal ubur-ubur (Aurelia aurita)
2.    Sebagai hiasan pada akuarium, misal anemon laut (Metridium sp.) dan gelang (Euplexaura antipathes / akar bahar)
3.    Sebagai wisata bahari dan perkembangbiakan ikan serta mencegah terjadinya erosi di pantai dengan adanya terumbu karang dari Kelas Anthozoa[13]

IV.      KESIMPULAN
Istilah Coelenterata diambil dari bahasa Yunani (Greek); coilos=rongga, enteron=usus. Istilah tersebut juga mengindikasikan bahwa hewan Coelenterata tidak memiliki rongga tubuh sebenarnya, melainkan hanya berupa rongga sentral yang disebut coelenteron.
            Secara umum hewan-hewan Coelenterata memiliki ciri-ciri khusus;
1.         Merupakan hewan yang memiliki ronga.
2.         Radial simetris dengan bentuk berupa medusa dan polip. Sifat jenis hermaprodit.
3.         Tubuh mempunyai dua lapisan sel (diploblastik)
4.         Bersifat heterotrof dengan memakan plankon dan hewan kecil di air.
5.         Habitat di air laut maupun air tawar. Berbentuk polip hidup soliter atau berkoloni, melekat pada batu atau lainnya di air laut (sebagai sesil). Dan yang berbentuk medusa berenang bebas di perairan.
6.         Di sekitar mulut terdapat tentakel
A.      Metridium
Posisi atau kedudukan Metridium dalam jenjang sistematika adalah sebagai berikut:
Filum          : Coelenterata
Kelas           : Anthozoa (Actinozoa)
Sub-kelas    : Hexacorallia (Zoantharia)
Ordo           : Actinaria
Familia        : Sagartiidae
Genus         : Metridium
Spesies        : Metridium marginatum
Metridium merupakan hewan yang menetap di suatu tempat dengan melekatkan diri pada suatu obyek yang berada di dalam laut. Tubuh Metridium berbentuk silindris dengan bagian oral agak melebar seperti corong yang dihiasi dengan rangkaian tentakel-tentakel yang membentuk seperti mahkota bunga. Tubuhnya terbagi menjadi 3 bagian utama, yaitu; bagian diskus pedal atau bagian kaki, bagian kolumna atau skapus atau bagian batang tubuh, dan bagian diskus oral atau kopitulus. Sistem pencernaan Metridium berupa sistem gastrovaskuler dan Metridium bersifat karnivora.
Metridium tidak mempunyai alat khusus untuk pernafasan maupun pembuangan hasil ekskresi. Dalam hal pernafasan baik pemasukan oksigen yang terlarut di dalam air laut, maupun pengeluaran gas karbondioksida berlangsung secara difusi-osmosis secara langsung melalui semua permukaan tubuhnya. Metridium berkembang biak secara aseksual maupun secara seksual. Perkembangbiakan secara aseksual dengan cara pembentukan kuncup. Pada perkembangbiakan secara seksual dengan cara fertilisasi.
Metridium  telah ditemukan susunan muskular (perototan), susunan muskular ini ditemukan baik di bagian epidermis maupun gastrodermis. Pada Metridium juga ditemukan susunan syaraf. Susunan syarafnya bersistem difus dan belum tampak adanya susunan syaraf pusat.
Peranan Coelenterata
1.         Sebagai sumber makanan dan bahan kosmetik, misal ubur-ubur (Aurelia aurita)
2.         Sebagai hiasan pada akuarium, misal anemon laut (Metridium sp.) dan gelang (Euplexaura antipathes / akar bahar)
3.         Sebagai wisata bahari dan perkembangbiakan ikan serta mencegah terjadinya erosi di pantai dengan adanya terumbu karang dari Kelas Anthozoa

V.                     PENUTUP
Demikianlah makalah ini Penulis susun, apabila terdapat kesalahan baik penulisan maupun penyampaian, maka kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat Penulis harapkan untuk pertimbangan dalam penyusunan makalah selanjutnya dikemudian hari, karena Penilis sadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya dan bagi Penulis khususnya. Amiiin.












DAFTAR PUSTAKA

http://sudewi-biologi.blogspot.com/

http//smayani.wordpress.com/2009/05/14/coelenterata/

Fajar P, Crys; dkk. 2008. IPA Terpadu VII. CV Mediatama. Surakarta.

Kastawi, Y. dkk. 2003. Common Text Book, Zoologi Avertebrata. JICA dan FMIPA Universitas Negeri Malang. Malang.

Susanti, R. 2008. Biologi. CV Haka MJ. Solo.

Wahyuni, Sri. 2005. Sains Biologi. Sekawan. Klaten.


[1]Kastawi Y. Dkk, Common Text Book, Zoologi Avertebrata, (JICA dan FMIPA Universitas Negeri Malang: Malang. 2003) hlm.62.
[2] Sri Wahyuni. Sains Biologi, (Sekawan: Klaten. 2005) hlm.45.
[3] Retno Susanti. Biologi, (CV Haka MJ: Solo. 2008) hlm.28.
[4] Yusuf Kastawi, Op.cit.,  hlm.62-63.
[5] Op.cit., hlm.28.
[6] Crys Fajar P., dkk. IPA Terpadu VII, (CV Mediatama: Surakarta. 2008)hlm.319.
[7] Yusuf Kastawi, Op.cit., hlm.102.
[8] Ibid. hlm.103.
[9] Ibid. hlm.104-105.
[10] http://sudewi-biologi.blogspot.com/
[11] Op.cit., hlm.105.
[12] Ibid. Hlm.106-107.
[13] http//smayani.wordpress.com/2009/05/14/coelenterata/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar