FILUM COELENTERATA
Metridium (Anemon Laut)
Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Sistematika dan Anatomi Invertebrata
Dosen Pengampu: Siti Mukhlisoh, S.Si., M.Si
Disusun oleh :
Reginia Candra Arinta (103811022)
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
WALISONGO
SEMARANG
2010
FILUM COELENTERATA
METRIDIUM (Anemon Laut)
I.
PENDAHULUAN
Berdasarkan
ada atau tidaknya tulang belakang, dunia hewan (kingdom animalia) terbagi
menjadi dua kelompok, yaitu invertebrata (hewan yang tidak bertulang belakang)
dan vertebrata (hewan bertulang belakang).
Invertebrata
atau avertebrata terdiri dari beberapa
filum, yaitu filum Porifera (hewan berpori), Coelenterata (hewan
berongga), Platyhelminthes (cacing pipih), Nemathelminthes
(cacing gilik), Annelida (cacing gelang), Echinodermata (hewan
berkulit duri), Mollusca (hewan lunak), dan Anthropoda (hewan
berbuku-buku).
Pada makalah ini akan dibahas
tentang Metridium dari kelas Anthozoa yang termasuk dalam filum
Coelenterata.
II.
RUMUSAN MASALAH
A.
Apa yang dimaksud dengan Coelenterata?
B.
Bagaimana ciri-ciri filum Coelenterata?
C.
Bagaimana klasifikasi Metridium
(Anemon Laut) itu?
D.
Bagaimana habitat Metridium?
E.
Bagaimana bentuk dan bagian-bagian tubuh
Metridium?
F.
Apa makanan dan bagaimana pencernaan
Metridium itu?
G.
Bagaimana respirasi dan ekskresi Metridium?
H.
Bagaimana sistem reproduksi Metridium?
I.
Bagaimana sistem muskular Metridium?
J.
Bagaimana sistem syaraf Metridium?
K.
Apa peranan Coelenterata?
III.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Coelenterata
Istilah
Coelenterata diambil dari bahasa Yunani (Greek); coilos=rongga, enteron=usus.
Gabungan istilah tersebut tidak diartikan sebagai hewan yang ususnya berongga.
Istilah tersebut juga mengindikasikan bahwa hewan Coelenterata tidak memiliki
rongga tubuh sebenarnya, melainkan hanya berupa rongga sentral yang disebut coelenteron.
Rongga tersebut berfungsi sebagai rongga pencernaan dan sekaligus berfungsi
sebagai pengedar sari makanan. Oleh karena itu rongga tersebut disebut juga
sebagai rongga gastrovaskuler. Filum Coelenterata ada beberapa ahli yang
menyebutnya dengan istilah Filum Cnidaria.[1] Sebagian besar
Coelenterata hidup di laut tetapi ada juga yang hidup di air tawar.[2]
Berdasarkan
bentuk dominan dalam siklus hidupnya, Coelenterata diklasifikasikan menjadi 4
kelas:
1.
Hydrosoa, sebagian besar mempunyai
bentuk dominan polip dan medusa dalam siklus hidupnya. Contoh: Hydra,
Obelia, Physalia.
2.
Scypozoa, mempunyai bentuk dominan
medusa dalam siklus hidupnya. Contoh: Cyanea dan Chysaora fruttescens.
3.
Anthozoa, hanya memiliki bentuk
polip dalam siklus hidupnya. Contoh: Tubastrea (koral/karang), Metridium
(anemon laut) dan Turbinaria
4.
Ctenophora, satu-satunya
Coelenterata yang tidak memiliki mematokis. Contoh: Mnemiopsis dan Venus
girdle. Hewan ini dapat memancarkan cahaya dari dalam laut gelap (bioluminisen).[3]
B.
Ciri-Ciri Coelenterata
Tubuh
hewan-hewan Coelenterata tersusun oleh dua lapis jaringan dan satu lapisan
nonselular. Bagian luar berupa lapisan jaringan epidermis dan bagian dalam
lapisan jaringan endodermis atau gastrodermis, sedangkan di antara kedua
lapisan tersebut ada lapisan nonselular yang disebut mesoglea. Jaringan
gastrodermis melapisi rongga gastrovaskular, sementara mesoglea merupakan masa
pasta/gudir yang disekresikan oleh sel-sel epidermis dan gastrodermis. Zat-zat
tersebut mengisi ruangan antara lapisan epidermis dan gastrodermis.
Kadang-kadang di dalam lapisan mesogela ini terdapat sel-sel amoboid. Jadi
sebenarnya tubuh Coelenterata terbangun oleh dua lapis germinal, yakni ektoderm
dan endoderm.
Bentuk tubuh Coelenterata memiliki dua tipe dasar, yakni sebagai polip yang
sesil atau menempel dan sebagai medusa yang dapat berenang bebas. Tipe polip
memiliki bentuk seperti tabung atau silinder, pada ujung oral terdapat mulut
yang dikelilingi oleh tentakel-tentakel, dan dapat bergerak memanjang atau
mengkerut. Tubuh tipe medusa berbentuk seperti sebuah bel atau lonceng atau
seperti payung. Bagian tubuh yang cembung berada di atas dan yang cekung di
bawah. Pada bagian tengah dari cekungan tersebut terdapat mulut.[4]
Secara
umum hewan-hewan Coelenterata memiliki ciri-ciri khusus;
1.
Merupakan hewan yang memiliki
ronga. Rangka dari zat kapur/zat tanduk.
2.
Radial simetris dengan bentuk
berupa medusa (berenang bebas) dan polip (melekat pada dasar menetap). Sifat
jenis hermaprodit.
3.
Tubuh mempunyai dua lapisan sel
(diploblastik) yaitu;
a.
Ektoderm / epidermis, mengandung
sel saraf, sel peraba, knidoblas yang mengandung nematokris penghasil racun
hipotoksin.
b.
Endoderm / gastrodermis, sebagai
rongga gastrovaskuler (sebagai alat pencernaan makanan sekaligus mengedarkannya
ke seluruh tubuh). Di antara kedua lapisan tersebut terdapat mescoler (lapisan
non seluler).
4.
Bersifat heterotrof dengan memakan
plankon dan hewan kecil di air.
5.
Habitat di air laut maupun air
tawar. Berbentuk polip hidup soliter atau berkoloni, melekat pada batu atau
lainnya di air laut (sebagai sesil). Dan yang berbentuk medusa berenang bebas
di perairan.[5]
6.
Di sekitar mulut terdapat tentakel
yang berfungsi untuk menangkap mangsa.[6]
C.
Klasifikasi Metridium
(Anemon Laut)
Posisi atau kedudukan Metridium
dalam jenjang sistematika adalah sebagai berikut:
Filum : Coelenterata
Kelas : Anthozoa (Actinozoa)
Sub-kelas : Hexacorallia (Zoantharia)
Ordo : Actinaria
Familia : Sagartiidae
Genus : Metridium
Spesies : Metridium marginatum[7]
D.
Habitat Metridium
Seperti
halnya dengan anemon laut lainnya Metridium dijumpai di kawasan laut,
mulai dari daerah pantai hingga di kedalaman 99 m, terutama di daerah laut yang
airnya hangat (tropik) dan jernih. Metridium merupakan hewan yang
menetap di suatu tempat dengan melekatkan diri pada suatu obyek yang berada di
dalam laut, misalnya batu karang, tumbuhan laut, bekas cangkang Gastropoda,
bahkan ada yang menguburkan diri hingga separuh dari tubuhnya di pasir atau
lumpur.
E.
Bentuk dan bagian-bagian
Tubuh Metridium
Tubuh Metridium berbentuk
silindris dengan bagian oral agak melebar seperti corong yang dihiasi dengan
rangkaian tentakel-tentakel yang membentuk seperti mahkota bunga. Panjang
tubuhnya sekitar 5-7 cm, tetapi ada juga yang berukuran raksasa hingga 1m.
Tubuhnya radial simetris dengan warna yang bervariasi, tetapi biasanya warnanya
kecoklat-coklatan atau kekuning-kuningan.
Tubuhnya terbagi menjadi 3 bagian
utama, yaitu; bagian diskus pedal atau bagian kaki, bagian kolumna atau
skapus atau bagian batang tubuh, dan bagian diskus oral atau kopitulus.
Antara bagian diskus pedal dengan bagian skapus dihubungkan oleh apa yang
disebut limbus, sedangkan antara bagian skapus dengan bagian diskus oral
dihubungkan oleh apa yang disebut kollar atau parapet.[8]
Sistem gastrovaskular dimulai dengan
mulut, mulut dihubungkan dengan coelenteron oleh suatu saluran yang berbentuk
suatu tabung yang disebut stomodeum atau gullet. Saluran stomodeum
tersebut di sepanjang sisinya dilengkapi alur cincin yang bersilia disebut
sifonoglifa (“siphonoglyph”). Alur ini merupakan jalan masuknya aliran air ke
dalam coelenteron. Rongga coelenteron dibagi menjadi bersekat-sekat oleh 6 buah
septa atau mesentris sehingga terbentuklah 6 buah kompartemen (ruang), yang
berposisi radial. Air dapat mengalir dari kompartemen satu kelainnya melalui
celah yang disebut ostia. Ke 6 buah septa tersebut dinamakan septa
primer. Disamping septa primer, masih ada lagi septa yang lain yaitu septa
sekunder yang merupakan septa kecil yang menonjol dari dinding tubuh ke dalam
rongga (liang) enteron. Septa ini tidak sampai mencapai stomodeum. Di antara
septa primer dengan septa sekunder masih ditemukan septa lagi yang disebut
septa tersier. Bagian tepi bebas (ujung distal)
dari septa dalam coelenteron di
bagian bawah stomodeum berkembang menjadi bentuk yang tebal yang disebut filament
digestial, yang di dalamnya mengandung sel-sel kelenjar penghasil getah
pencerna yang mengandung enzim. Dekat bagian dasar dari filament digestif
ditemukan benang-benang akonsia (acontia), yang di dalamnya dilengkapi
dengan sel-sel kelenjar dan nematokist. Salah satu fungsi dari akonsia adalah
untuk mengusir musuh dengan cara akonsia tersebut dijulurkan lebih dahulu
melalui pori-pori yang ada pada dinding tubuh hewan yang bersangkutan.
F.
Makanan dan Pencernaan Metridium
Metridium,
seperti halnya anemon laut lainnya bersifat karnivora. Makanannya
berupa invertebrata kecil-kecil lainnya, disamping itu juga berupa ikan-ikan kecil. Untuk jenis ikan tertentu
tidak diganggunya bahkan malah bersimbiosis, jenis ikan tersebut termasuk pada
genus Amphirion. Makanan atau mangsanya terlebih dahulu diumpuhkan
dengan racun yang dihasilkan oleh nematokist, baru kemudian di tarik ke dalam
mulutnya dengan pertolongan tentakel-tentakelnya. Selanjutnya makanan ditelan
melalui stomodeum, dan akhirnya sampai di dalam rongga gastrovaskularnya. Di
dalam rongga coelenteron makanan tersebut dicernakan oleh enzim yang terkandung
di dalam getah pencernaan.
Selanjutnya sari-sari makanan akan
diserap oleh dinding gastrodermis, sedangkan bagian atau partikel yang tidak tercernakan akan dimuntahkan
kembali melalui mulutnya. Proses pencernaan makanan berlangsung baik secara
ekstraselular maupun secara intraselular. Getah pencerna dihasilkan oleh
sel-sel kelenjar yang ditemukan di Bagian filament-digestif, maupun di dalam
akonsia. Getah pencerna yang mengandung enzim proteolitik sanggup mencernakkan
zat makanan yang berupa protein dan juga zat lemak maupun karbohidrat.
G.
Respirasi dan Ekskresi Metridium
Metridium,
seperti halnya Coelenterata lain, tidak mempunyai alat khusus untuk pernafasan
maupun pembuangan hasil ekskresi. Dalam hal pernafasan baik pemasukan oksigen
yang terlarut di dalam air laut, maupun mengeluarkan gas karbondioksida
berlangsung secara difusi-osmosis secara langsung melalui semua permukaan
tubuhnya. Yang dimaksud dengan permukaan tubuh ialah baik permukaan epidermis
maupun permukaan gastrodermis yang menghadap kearah liang atau rongga
gastrovaskular. Dalam hal ini, aliran air yang timbul di dalam saluran
gastrovaskular disebabkan oleh gerak sapu dari rambut-rambut getar yang
berjajar-jajar di bagian dinding stomodeum maupun dinding gastrovaskular
(coelenteron). Gerak rambut getar yang ada pada dinding gastrovaskular
menimbulkan aliran masuk, sedangkan gerak rambut-rambut getar yang ada pada
dinding stomodeum akan menimbulakan aliran air ke luar. Kedua mekanisme ini
sangat membantu dalam hal pertukaran gas
maupun sisa-sisa metabolisme lainnya.[9]
H.
Sistem Reproduksi Metridium
Memetridium mengalami metagenesis, yaitu
dengan reproduksi aseksual dan seksual secara bergantian[10]. Perkembangan secara
aseksual dilakukan dengan pembentukan kuncup maupun dilakukan secara
fragmentasi. Cara fragmentasi dilakukan dengan memutuskan tubuhnya di bagian
diskus pedal. Bagian yang membawa diskus pedal akan membentuk bagian diskus
oral baru, sedangkan yang membawa bagian diskus oral akan membentuk bagian
diskus pedal baru. Tetapi fragmentasi tersebut juga dapat terjadi secara
membujur, yang biasa dikenal dengan istilah pembelahan secara biner.
Perkembangbiakan secara aseksual dengan cara pembentukan kuncup berlangsung
sebagai berikut: mula-mula di bagian kolumna atau skapus timbul semacam
tonjolan (benjolan) yang makin berkembang sehingga akhirnya terbentuklah Metridium
baru. Metridium anakan tersebut kelak bila sudah tiba saatnya akan
melepaskan diri dari tubuh induknya dan hidup secara mandiri.[11]
Pada perkembangbiakan secara seksual Metridium,
ada jenis yang bersifat hermaprodit, ada yang berkelamin terpisah. Pada jenis
yang hermaprodid, perkembangan antara sel telur dengan spermatozoid tidak
bersamaan masaknya. Dengan demikian perkawinan se-telur dengan spermatozoid
terjadi secara perkawinan silang. Baik ovum maupun spermatozoid yang telah
masak akan dikeluarkan melalui mulutnya dan perkawinannya berlangsung di alam
bebas (perkawinan berlangsung secara eksternal di dalam air laut). Dari hasil
perkawinan antara sel telur dengan spermatozoid akan terbentuklah zigot. Dari
hasil pembelahan zigot tersebut akan terbentuklah coeloblastula. Coeloblastula
tersebut selanjutnya dengan proses gastrulasi akhirnya membentuk larva yang
berambut getar atau planula. Dengan rambut getarnya, planula akan berenang-renang
secara bebas untuk mencari lingkungan hidup baru. Bila sudah menemukan tempat
yang sesuai, misalnya ada subtrat untuk melekat dan lingkungan yang cukup
makanan, maka planula akan melekatkan diri pada suatu obyek dan tumbuh menjadi
polip Metridium baru.
I.
Sistem Muskular (Perototan)
Metridium
Anemon
laut memperlihatkan berbagai bentuk gerak yang bervariasi. Hal ini berarti pada
anemon laut telah ditemukan susunan muskular yang telah mengalami perkembangan
lebih sempurna. Susunan muskular ini ditemukan baik di bagian epidermis maupun
gastrodermis. Muskular yang ditemukan di bagian epidermis adalah hanya terbatas
pada serabut-serabut mamanjang atau longitudinal dan serabut radial. Serabut
longitudinal dijumpai pada bagian tentakel, sedangkan serabut radial ditemukan
pada bagian diskus oral. Muskular yang dijumpai pada lapisan gastrodermis
terdiri atas serabut-serabut sirkular. Serabu serabut sirkular ini dijumpai
pada bagian tentakel, diskus oral, skapus dan diskus pedal. Di bagian dinding
kollar, serabut sirkular ini menebal dan membentuk apa yang disebut sphincter,
dan berfungsi untuk menutup rongga coelenteron yang ada di bagian skapus bila
anemon sedang memendekkan tubuhnya.
Disamping
itu masih ditemukan lagi susunan muskular yang lain, yaitu otot retraktor. Otot
retraktor ini adalah otot longitudinal yang membujur dan menempel pada salah
satu permukaan mesenteris (septa) pada bagian tepi sisi dalam. Otot retraktor
ini bila berkerut akan menyebabkan memendeknya mesentris, tentakel maupun
diskus oral. Selanjutnya itu masih ditemukan sistem otot lain yaitu otot basilar
yang membentang secara melintang di bagian permukaan bawah luar dari mesentris.
Otot ini bila berkerut akan mendekatkan bagian skapus dengan bagian diskus
pedal.
J.
Sistem Syaraf Metridium
Susunan syaraf pada anemon laut sangat
sederhana, dan pada dasarnya serupa dengan susunan syaraf pada Coelenterata
lainnya. Susunan syarafnya bersistem difus dan belum tampak adanya susunan
syaraf pusat. Sistem syaraf tersebut terdiri atas pleksus epidermal dan pleksus
gastrodermal, yang masing-masing tersusun atas serabut syaraf dan ganglion yang
besar. Pleksus tersebut makin intensif terutama di bagian tentakel, diskus oral
maupun stomodeum. Tentang alat indera pada anemon laut ini belum ditemukan yang
spesifik.[12]
K.
Peranan Coelenterata
1.
Sebagai sumber makanan dan bahan kosmetik,
misal ubur-ubur (Aurelia aurita)
2.
Sebagai hiasan pada akuarium,
misal anemon laut (Metridium sp.) dan gelang (Euplexaura antipathes /
akar bahar)
3.
Sebagai wisata bahari dan
perkembangbiakan ikan serta mencegah terjadinya erosi di pantai dengan adanya
terumbu karang dari Kelas Anthozoa[13]
IV. KESIMPULAN
Istilah
Coelenterata diambil dari bahasa Yunani (Greek); coilos=rongga, enteron=usus.
Istilah tersebut juga mengindikasikan bahwa hewan Coelenterata tidak memiliki
rongga tubuh sebenarnya, melainkan hanya berupa rongga sentral yang disebut coelenteron.
Secara
umum hewan-hewan Coelenterata memiliki ciri-ciri khusus;
1.
Merupakan hewan yang memiliki
ronga.
2.
Radial simetris dengan bentuk
berupa medusa dan polip. Sifat jenis hermaprodit.
3.
Tubuh mempunyai dua lapisan sel
(diploblastik)
4.
Bersifat heterotrof dengan memakan
plankon dan hewan kecil di air.
5.
Habitat di air laut maupun air
tawar. Berbentuk polip hidup soliter atau berkoloni, melekat pada batu atau
lainnya di air laut (sebagai sesil). Dan yang berbentuk medusa berenang bebas
di perairan.
6.
Di sekitar mulut terdapat tentakel
A.
Metridium
Posisi atau kedudukan Metridium
dalam jenjang sistematika adalah sebagai berikut:
Filum : Coelenterata
Kelas : Anthozoa (Actinozoa)
Sub-kelas : Hexacorallia (Zoantharia)
Ordo : Actinaria
Familia : Sagartiidae
Genus : Metridium
Spesies : Metridium marginatum
Metridium merupakan hewan yang menetap di suatu tempat dengan melekatkan diri
pada suatu obyek yang berada di dalam laut. Tubuh Metridium berbentuk
silindris dengan bagian oral agak melebar seperti corong yang dihiasi dengan
rangkaian tentakel-tentakel yang membentuk seperti mahkota bunga. Tubuhnya
terbagi menjadi 3 bagian utama, yaitu; bagian diskus pedal atau bagian
kaki, bagian kolumna atau skapus atau bagian batang tubuh, dan
bagian diskus oral atau kopitulus. Sistem pencernaan Metridium berupa
sistem gastrovaskuler dan Metridium bersifat karnivora.
Metridium
tidak mempunyai alat khusus untuk pernafasan maupun
pembuangan hasil ekskresi. Dalam hal pernafasan baik pemasukan oksigen yang
terlarut di dalam air laut, maupun pengeluaran gas karbondioksida berlangsung
secara difusi-osmosis secara langsung melalui semua permukaan tubuhnya. Metridium
berkembang biak secara aseksual maupun secara seksual. Perkembangbiakan
secara aseksual dengan cara pembentukan kuncup. Pada perkembangbiakan secara
seksual dengan cara fertilisasi.
Metridium
telah ditemukan
susunan muskular (perototan), susunan muskular ini ditemukan baik di bagian
epidermis maupun gastrodermis. Pada Metridium juga ditemukan susunan
syaraf. Susunan syarafnya bersistem difus dan belum tampak adanya susunan
syaraf pusat.
Peranan Coelenterata
1.
Sebagai sumber makanan dan bahan
kosmetik, misal ubur-ubur (Aurelia aurita)
2.
Sebagai hiasan pada akuarium,
misal anemon laut (Metridium sp.) dan gelang (Euplexaura antipathes /
akar bahar)
3.
Sebagai wisata bahari dan
perkembangbiakan ikan serta mencegah terjadinya erosi di pantai dengan adanya
terumbu karang dari Kelas Anthozoa
V.
PENUTUP
Demikianlah
makalah ini Penulis susun, apabila terdapat kesalahan baik penulisan maupun
penyampaian, maka kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat Penulis
harapkan untuk pertimbangan dalam penyusunan makalah selanjutnya dikemudian
hari, karena Penilis sadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya dan bagi
Penulis khususnya. Amiiin.
DAFTAR PUSTAKA
http://sudewi-biologi.blogspot.com/
http//smayani.wordpress.com/2009/05/14/coelenterata/
Fajar P, Crys; dkk. 2008. IPA Terpadu VII. CV Mediatama.
Surakarta.
Kastawi, Y. dkk. 2003. Common Text Book, Zoologi
Avertebrata. JICA dan FMIPA Universitas Negeri Malang. Malang.
Susanti, R. 2008. Biologi. CV Haka MJ. Solo.
Wahyuni, Sri. 2005. Sains Biologi.
Sekawan. Klaten.
[1]Kastawi Y. Dkk, Common Text Book, Zoologi Avertebrata,
(JICA dan FMIPA Universitas Negeri Malang: Malang. 2003) hlm.62.
[2] Sri Wahyuni. Sains Biologi, (Sekawan: Klaten. 2005) hlm.45.
[3] Retno Susanti. Biologi, (CV Haka MJ: Solo. 2008) hlm.28.
[4] Yusuf Kastawi, Op.cit., hlm.62-63.
[5] Op.cit., hlm.28.
[7] Yusuf Kastawi, Op.cit., hlm.102.
[8] Ibid. hlm.103.
[9] Ibid. hlm.104-105.
[10] http://sudewi-biologi.blogspot.com/
[11] Op.cit., hlm.105.
[12] Ibid. Hlm.106-107.
[13] http//smayani.wordpress.com/2009/05/14/coelenterata/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar