Halaman

Senin, 04 November 2013

Makalah Psikologi Pendidikan


Faktor-Faktor yang Memengaruhi Belajar Siswa


Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Psikologi Pendidikan
Dosen Pengampu: Dr. Widodo Supriyanto M.A




 











Disusun oleh :
Reginia Candra Arinta (103811022)





FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI BELAJAR SISWA


I.         PENDAHULUAN
Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar.[1] Dari pengertian diatas, terlihat adanya hubungan yang kuat antara psikologi pendidikan dengan belajar. Oleh karena itu, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkaitan dengan proses belajar.
Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yaitu persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada subjek didik, maka pendidik memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar pendidik dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang  besar terhadap berlangsungnya belajar secara efektif. Namun, tindakan-tindakan belajar itu juga tidak lepas dari beberapa faktor yang memengaruhi belajar dari siswa itu sendiri.

II.      RUMUSAN MASALAH
1. Apa saja faktor-faktor internal yang memengaruhi belajar siswa?
2. Apa saja faktor-faktor eksternal yang memengaruhi belajar siswa?

III.   PEMBAHASAN
Faktor-faktor yang memengaruhi belajar ada banyak jenisnya, namun dapat digolongkan menjadi dua, yaitu faktor intenal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang ada diluar individu yang sedang belajar.
Faktor-faktor diatas dalam banyak hal sering saling berkaitan dan memengaruhi satu sama lain. Contoh: seorang siswa yang bersikap conserving terhadap ilmu pengetahuan atau bermotif ekstrinsik, biasanya cenderung mengambil pendekatan belajar yang sederhana dan tidak mendalam. Sebaliknya, seorang siswa yang berinteligensi tinggi dan mendapat dorongan positif dari orangtuanya, kemungkinan memilih pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas hasil belajar. Karena pengaruh faktor-faktor itulah, muncul siswa-siswa yang berprestasi tinggi (high-achievers) dan berprestasi rendah (underachievers) atau gagal sama sekali. Dalam hal ini, seorang guru yang kompeten dan professional diharapkan mampu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan munculnya kelompok siswa yang menunjukkan gejala kegagalan dengan mengetahui dan mengatasi faktor yang bisa menghambat proses belajar mereka.[2]
A.  FAKTOR-FAKTOR INTERNAL
Dalam membicarakan faktor internal ini, akan dibahas menjadi tiga faktor, yaitu: faktor jasmaniyah, faktor psikologis, dan faktor kelelahan.[3]
1.         Faktor Jasmaniyah
a.      Faktor Kesehatan
Kesehatan berasal dari kata “sehat” yang berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya atau dengan kata lain bebas dari penyakit.
Seseorang yang mengalami gangguan kesehatan seperti cepet lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, cepat ngantuk jika badannya lemah, anemia ataupun gangguan-gangguan yang lain akan memengaruhi proses belajar sesorang tersebut.
Agar seseorang dapat belajar dengan baik haruslah menjaga kesehatannya, sengan cara makan yang teratur, istirahat yang cukup, tidur, olahraga, rekreasi dan ibadah.
b.      Cacat Tubuh
Keadaan fungsi-fungsi jasmani tertentu, seperti fungsi-fungsi panca indra, lebih-lebih mata dan telinga mempunyai pengaruh besar sekali dalam belajar. Mungkin  orang tidak menolak bila dikatakan bahwa panca indra adalah pintu gerbang ilmu pengetahuan, hal ini mengingat bahwa pengenalan dunia luar yang biasa disebut pengamatan, panca indra mempunyai peranan penting.[4]
Cacat tubuh adalah suatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh / badan. Cacat itu dapat berupa buta, setengah buta, tuli, setengah tuli, patah kaki, dan patah tangan, lumpuh dan lain-lain.[5]
Keadaan seperti diatas dapat mempengaruhi proses belajar siswa yang mengalami cacat, karena mungkin mereka minder dengan siswa yang lain karena fisik mereka tidak sempurna seperti siswa yang lain. Jika hal ini terjadi, hendaknya ia belajar pada lembaga pendidikan khusus, yang  sekarang banyak sekolah atau lembaga pendidikan khusus yang disediakan untuk siswa-siswa yang mengalami cacat tubuh, yang disebut SLB (Sekolah Luar Biasa).
2.         Faktor Psikologis
Faktor psikologis memiliki peran yang sangat menentukan di dalam belajar, karena dapat memengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan belajar siswa. Ada tujuh faktor yang tergolong dalam faktor psikologis, yaitu: intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kelelahan.
a.    Intelegensi
Menurut Reber dalam bukunya yang berjudul “The Penguin Dictionary of Psichology” menyatakan bahwa Intelegensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat.
Sedangkan J.P. Chaplin merumuskan sebagai berikut:
1)   The ability to meet and adapt to novel situations quickly and effectively.
2)   The ability to utilize abstract concepts effectively.
3)   The ability to grasp relationships and to learn quickly.
Jadi intelegensi itu adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis, yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui / menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.[6]
Intelegensi ini berpengaruh besar terhadap kemajuan belajar. Dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah. Wlaupun begitu siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi belum pasti berhasil dalam belajarnya. Hal ini disebabkan karena belajar itu  sendiri yaitu suatu proses yang kompleks dengan banyak faktor yang memengaruhinya, sedangkan intelegensi adalah salah satu faktor diantara faktor lainnya yang  memengaruhi belajar tersebut.
b.   Perhatian
Pemusatan tenaga psikis tertuju pada suatu obyek atau banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai aktivitas  yang dilakukan dinamakan perhatian.[7]
Makin intensif perhatian belajar makin berhasillah belajar, oleh karenanya materi dan penyampaian sebaiknya mampu menimbulkan perhatian yang intensif. Dilihat dari cara timbulnya perhatian bisa dibedakan menjadi:
1)   Perhatin spontan
2)   Perhatian reflektif
Perhatian jenis pertama timbul seakan-akan tanpa disengaja, sedang jenis kedua timbul karena usaha. Perhatian spontan cenderung berlangsung lebih lama dan lebih intensif, maka guru yang baik senantiasa berusaha agar belajar bisa diterima oleh siswa dengan perhatian spontan.
Bila dipandang dari luas obyeknya, perhatian bisa dibagi menjadi:
1)   Perhatian konsentratif
2)   Perhatian distributif
Guru mempunyai tugas mengatur lingkungan / kelas sedemikian rupa, sehingga memungkinkan suburnya perhatian konsentratif dalam setiap proses belajar mengajar berlangsung.[8] Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka guru diusahakan untuk selalu mengajarkan bahan pelajaran yang selalu menarik perhatian siswanya agar siswa tidak mengalami kebosanan, sehingga ia tidak sukar lagin belajar.
c.    Minat
Secara sederhana, minat (interst) berarti kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Biasanya, kegiatan yang diminati oleh siswa akan diperhatikan terus-menerus dan disertai dengan perasaan senang.
Minat ini pengaruhnya sangat besar terhadap belajar, karena minat ini biasanya memengaruhi kuaalitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang-bidang studi tertentu. Sebagai contohnya yaitu, seorang siswa yang menaruh minat terhadap pelajaran biologi akan memusatkan perhatiannya lebih banyak terhadap pelajaran itu  daripada siswa yang tidak menaruh minat terhadap pelajaran biologi tersebut. Karena pemusatan perhatian yang intensif terhadap materi itulah yang memungkinkan siswa tadi belajar lebih giat secara senang, dan akhirnya mencapai prestasi yang diinginkan.
Jika terdapat siswa yang kurang berminat terhadap belajar, maka guru dapat menjelaskan hal-hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan yang berkaitan dengan bahan pelajaran yang dipelajari tersebut yang dimaksudkan agar siswa tersebut mempunyai minat yang lebih besar.
d.   Bakat
Bakat atau aptitude menurut Hilgard adalah: “the capacity to learn”. Dengan perkataan lain bakat adalah kemampuan untuk belajar.[9] Secara umum bakat (aptitude) adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Chaplin, 1972; Reber, 1988). Dengan demikian, sebetulnya setiap orang pasti memilki bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ke tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing.[10]
Dari uraian di atas dapat dijelaskan bahwa bakat itu memengaruhi belajar. Bakat akan dapat memengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar terhadap bidang-bidang studi tertentu. Misalnya seorang siswa yang berbakat dengan bidang tata boga, akan jauh lebih mudah menyerap informasi, pengetahuan dan ketrampilan yang berhubungan dengan bidang tersebut dibanding dengan siswa lainnya.
Penting untuk mengetahui bakat siswa dan menempatkan siswa belajar disekolah yang sesuai dengan bakatnya. Karena jika tetap memaksakan kehendak yang tidak sesuai dengan bakat siswa atau siswa itu memiliki ketidaksadaran terhadap bakatnya sendiri segingga ia memilih jurusan yang sebenarnya bukan bakatnya, maka akan berpengaruh buruk terhadap kinerja akademik (academic performance) atau prestai belajarnya.
e.       Motif
Motif sangat erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai. dalam mencapai tujuan perlu adanya berbuat sesuatu, faktor yang menjadi penyebab berbuat adalah motif itu sendiri sebagai penggerak / pendorongnya.
Motif boleh jadi timbul dari rangsangan luar, seperti pemberian hadiah bila seseorang dapat menyelesaikan satu tugas dengan baik. Motif semacam ini sering disebut motif ekstrensik. Tetapi tidak jarang pula motif tumbuh di dalam diri subjek didik sendiri yang disebut motif intrinsik. Misalnya, seorang subjek didik gemar membaca karena dia memang ingin mengetahui lebih dalam tentang sesuatu.[11]
Dalam proses belajar haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik atau padanya mempunyai motif untuk berpikir dan memusatkan perhatian, merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang berhubungan / menunjang belajar. Motif-motif di atas dapat juga ditanamkan pada diri siswa dengan cara memberikan latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan yang kadang-kadang juga dipengaruhi oleh keadaan lingkungan.[12]
f.     Kematangan
Kematangan adalah suatu tingkat/fase dalam pertumbuhan seseorang, di mana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Kematangan belum berarti anak dapat melaksanakan kegiatan secara terus-menerus, untuk itu diperlukan latihan-latihan dan pelajaran. Anak yang sudah siap (matang) belum dapat melaksanakan kecakapannya sebelum belajar, dan belajar juga akan lebih berhasil jika anak sudah siap (matang). Jadi kemajuan baru untuk memiliki kecakapan itu tergantung dari kematangan belajar.
g.    Kesiapan
Kesiapan atau readiness menurut Jamies Drever adalah: Preparedness to respond or react. Kesiapan adalah kesediaan untuk member respons atau bereaksi.[13] Kesiapan ini perlu diperhatikan dalam proses belajar, karena jika siswa sudah memiliki kesiapan maka hasil belajarnya akan lebih baik.
3.         Faktor Kelelahan
Kelelahan dapat dibagi menjadi dua macam, kelelahan rohani dan kelelahan jasmani.
Kelelahan rohani (bersifat psikis)  dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sulit berkonsentrasi seolah-olah otak kehabisan daya untuk berpikir. Kelelahan rohani dapat terjadi terus-menerus memikirkan masalahnyang dianggap berat tanpa istirahat, menghadapi hal-hal yang selalu sama / konstan tanpa ada variasi, dan mengerjakan sesuatu Karena terpaksa dan tidak sesuai dengan bakat, minat dan perhatiannya.
Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh. Kelelahan jasmani terjadi karena terjadi kekacauan substansi sisa pembakaran di dalam tubuh, sehingga darah tidak / kurang lancar pada bagian-bagian tertentu.
Kelelahan baik secara jasmani maupun rohani dapat dihilangkan dengan caraa-cara sebagai berikut:
1)   Tidur
2)   Istirahat
3)   Mengusahakan variasi dalam belajar dan bekerja
4)   Menggunakan obat-obatan yang bersifat melancarkan peredaran darah, misalnya obat gosok
5)   Rekreasi dan ibadah yang teratur
6)   Olahraga secara teratur, dan
7)   Mengimbangi makan dengan makanan yang memenuhi syarat-syarat kesehatan, misalnya yang memenuhi empat sehat lima sempurna
8)   Jika kelelahan secara serius cepat-cepat menghubungi seorang ahli, misalnya dokter, psikiater, konselor dan lain-lain.[14]
B.       FAKTOR-FAKTOR EKSTERNAL
1.    Lingkungan Sosial
Faktor lingkungan sosial yaitu meliputi lingkungan sosial sekolah, lingkungan sosial siswa, dan lingkungan sosial keluarga.
Lingkungan sosial sekolah yaitu seperti para guru, para tenaga kependidikan (kepala sekolah dan wakil-wakilnya) dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi semangat belajar seorang siswa. Para guru yang selalu menunjukkan sikap dan perilaku yang simpatik dan memperlihatkan suri teladan yang baik dan rajin khususnya dalam hal belajar, misalnya rajin membaca dan berdiskusi, dapat menjadi daya dorong yang positif bagi siswa.[15] Teman-teman sekelas juga dapat memengaruhi belajar seorang siswa, karena teman biasanya merupakan tempat untuk berbagi rasa dalam tawa maupun duka. Memiliki dan bergaul dengan teman yang baik dan mempunyai semangat tinggi dalam belajar, membuat siswa tersebut juga berkeinginan menjadi seperti temannya, yaitu bersemangat dalam belajar. Namun, memiliki teman yang malas belajar dan suka seenaknya sendiri bisa jadi membuat teman yang akrab dengannya juga menjadi malas belajar karena pergaulan dengan orang yang kurang tepat tersebut. Sebaiknya untuk menyikapi hal ini, seharusnya diadakan belajar kelompok agar siswa yang kurang bersemangat dalam belajar bisa sedikit terbantu oleh temannya yang memiliki semangat tinggi dalam belajar.
Yang termasuk lingkungan sosial siswa adalah masyarakat dan tetangga juga teman-teman sepermainan di sekitar perkampungan siswa tersebut.[16] Lingkungan sosial masyarakat dan tetangga juga teman-teman sepermainan yang mendukung aktifitas belajar siswa akan membuat siswa senang dan bersemangat dalam belajar, misal seperti diadakan organisasi anak pelajar dalam masyarakat tersebut guna mengadakan belajar dan diskusi kelompok secara bersama.
Lingkungan sosial yang terakhir adalah lingkungan sosial orangtua dan keluarga siswa itu sendiri, lingkungan sosial ini adalah lingkungan sosial yang paling berpengaruh dalam kegiatan belajar siswa.  Sifat-sifat orang tua, praktik pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, dan demografi keluarga (letah rumah), semuanya dapat member dampak baik atau buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai oleh siswa. Contoh: kebiasaan yang diterapkan oleh orangtua siswa dalam mengelola kelarga (family management practices) yang keliru, seperti  kelalaian orangtua dalam memonitor kegiatan anak, dapat menimbulkan dampak lebih buruk lagi. Dalam hal ini, bukan saja anak tidak mau belajar melainkan juga ia cenderung berperilaku menyimpang, terutama perilaku menyimpang yang berat seperti antisocial (Patterson & Loeber, 1984).
2.    Lingkungan Nonsosial
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial ini adalah gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa.[17]
Gedung sekolah dapat memengaruhi belajar karena dengan jumlah siswa yang banyak serta variasi karakteristik mereka masing-masing, maka gedung sekolah juga harus memadai dalam di dalam setiap kelas agar siswa merasa nyaman untuk belajar. Letak gedung sekolah juga memengaruhi, diusahakan sekolah jauh dari kebisingan agar siswa bisa belajar konsentrasi dalam belajar. Rumah tinggal siswa juga memengaruhi belajar seperti gedung sekolah.
Alat belajar juga berkaitan dengan belajar siswa. Alat belajar yang lengkap dan tepat yang diberikan guru kepada siswanya akan memperlancar penerimaan bahan pelajaran yang diajarkan. Jika siswa mudah menerima pelajaran dan menguasainya, maka belajarnya akan lebih giat dan nanti siswa tersebut akan lebih maju.
Cuaca dan iklim yang sekarang sering berubah-ubah dapat memengaruhi kesehatan siswa, dan secara tidak langsung juga memengaruhi belajar siswa. Cuaca mendung dan hujan saat siswa mau berangkat ke sekolah bisa jadi membuat siswa enggan berangkat, atau ada juga siswa yang bersemangat dalam belajar tetap berangkat ke sekolah walau dengan atau tanpa pelindung dari hujan (payung atau jas hujan). Dan hujan ini dapat membuat kesehatan menurun terhadap siswa yang antibodynya kurang.
Khusus mengenai waktu yang disenangi untuk belajar (study time preference) seperti pagi atau sore hari, seorang ahli bernama J. Biggers (1980) berpendapat bahwa belajar pada pagi hari lebih efektif daripada belajar pada waktu-waktu lainnya. Namun, menurut penelitian bebrapa ahli learning style (gaya belajar), hasil belajar itu tidak bergantung pada waktu secara mutlak, tetapi bergantung pada pemilihan waktu yang cocok dengan kesiapsiagaan siswa (Dunn et al, 1986). Di antara siswa ada yang setiap belajar pada pagi hari, ada pula yang siap pada sore hari, bahkan tengah malam. Perbedaan antara waktu dan kesiapan belajar inilah yang menimbulkan perbedaan study time preference antara seorang siswa dengan siswa lainnya. Akan tetapi, menurut hasil penelitian mengenai kinerja baca (reading performance) sekelompok mahasiswa di sebuah universitas di Australia Selatan, tidak ada perbedaan yang berarti antara hasil membaca pada pagi hari dan hasil membaca pada sore hari. Selain itu, keeratan korelasi antara study time preference dengan hasil membaca pun sulit dibuktikan. Bahkan mereka yang lebih senang belajar pada pagi hari dan dites pada sore hari, ternyata hasilnya tetap baik. Sebaliknya, ada pula di antara mereka yang lebih suka belajar pada sore hari dan dites pada saat saat yang sama, namun hasilnya tidak memuaskan (Syah, 1990). Dengan demikian, waktu yang digunakan siswa untuk belajar yang selama ini sering dipercaya berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa, tak perlu dihiraukan. Sebab, bukan waktu yang penting dalam belajar melainkan kesiapan system memori siswa dalam menyerap, mengelola, dan menyimpan item-item informasi dan pengetahuan yang dipelajari siswa tersebut.[18]















IV.   KESIMPULAN
Faktor-faktor yang memengaruhi belajar siswa itu terdiri dari 2, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang ada dalam individu yang sedang belajar. Sedangkan faktor internal adalah faktor yang ada di luar individu yang sedang belajar.
Faktor internal yang memengaruhi belajar meliputi: Faktor jasmaniyah (faktor kesehatan dan cacat tubuh), faktor psikologis (intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan), dan faktor kelelahan.
Sedangkan faktor eksternal yang memengaruhi belajar meliputi: lingkungan sosial dan lingkungan nonsosial. Faktor-faktor tersebut saling berkaitan dan saling memengaruhi belajar siswa.

V.      PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat Penulis susun, apabila terdapat kesalahan, maka kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat Penulis harapkan untuk pertimbangan dalam penyusunan makalah selanjutnya dikemudian hari, karena Penulis sadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca pada umumnya dan bagi Penulis pada khususnya. Amiiin.












DAFTAR PUSTAKA

http://www.andragogi.com/document/psikologi_pendidikan.htm
Mustaqim. Psikologi pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Belajar. 2001.
Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2010.
Slameto. Belajar & Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. 2010.
Suryabrata, Soemadi. Psykologi Belajar. Yogyakarta: Sumbangsih. 1969.
Whetherington, H.C.. Educational Psycology. terjemahan M. Buchori. Jakarta: Aksara Baru. 1982.


[1] H.C. Whetherington, Educational Psycology, terjemahan M. Buchori, Aksara Baru, Jakarta, 1982, hal. 10.
[2] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010) hlm. 129-130
[3] Slameto, Belajar & Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010) hlm. 54
[4] Mustaqim, Psikologi pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2001) hlm. 70
[5] Op. Cit., hlm. 55
[6] Slameto, Op. Cit., hlm. 55-56
[7] Soemadi Suryabrata, Psykologi Belajar, (Yogyakarta: Sumbangsih, 1969)
[8] Mustaqim, Op. Cit., hlm. 72-73
[9] Slameto, Op. Cit., hlm. 57
[10] Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm. 133
[11] http://www.andragogi.com/document/psikologi_pendidikan.htm
[12] Slameto, Op. Cit., hlm. 58
[13] Ibid, hlm. 59
[14]Ibid, hlm. 60
[15]Muhibbin Syah, Op. Cit., hlm. 135
[16] Ibid, hlm. 135
[17] Ibid, hlm. 135
[18] Ibid, hlm. 136

Tidak ada komentar:

Posting Komentar