Faktor-Faktor
yang Memengaruhi Belajar Siswa
Makalah
Disusun
Guna Memenuhi Tugas
Mata
Kuliah: Psikologi Pendidikan
Dosen
Pengampu: Dr. Widodo Supriyanto M.A
Disusun
oleh :
Reginia
Candra Arinta (103811022)
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM
NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011
FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMENGARUHI BELAJAR SISWA
I.
PENDAHULUAN
Psikologi
pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang
berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan
yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar.[1]
Dari pengertian diatas, terlihat adanya hubungan yang kuat antara psikologi
pendidikan dengan belajar. Oleh
karena itu, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang
berkaitan dengan proses belajar.
Karena konsentrasinya
pada persoalan belajar, yaitu persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada
subjek didik, maka pendidik memang dituntut untuk
menguasai bidang ilmu ini agar
pendidik dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan
kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya belajar secara
efektif. Namun, tindakan-tindakan
belajar itu juga tidak lepas dari beberapa faktor yang memengaruhi belajar dari
siswa itu sendiri.
II. RUMUSAN MASALAH
1. Apa
saja faktor-faktor internal yang memengaruhi belajar siswa?
2. Apa
saja faktor-faktor eksternal yang memengaruhi belajar siswa?
III. PEMBAHASAN
Faktor-faktor yang
memengaruhi belajar ada banyak jenisnya, namun dapat digolongkan menjadi dua, yaitu
faktor intenal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang ada
dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor eksternal adalah
faktor yang ada diluar individu yang sedang belajar.
Faktor-faktor diatas dalam banyak hal sering saling berkaitan
dan memengaruhi satu sama lain. Contoh: seorang siswa yang bersikap conserving
terhadap ilmu pengetahuan atau bermotif ekstrinsik, biasanya cenderung
mengambil pendekatan belajar yang sederhana dan tidak mendalam. Sebaliknya,
seorang siswa yang berinteligensi tinggi dan mendapat dorongan positif dari
orangtuanya, kemungkinan memilih pendekatan belajar yang lebih mementingkan
kualitas hasil belajar. Karena pengaruh faktor-faktor itulah, muncul siswa-siswa
yang berprestasi tinggi (high-achievers) dan berprestasi rendah (underachievers)
atau gagal sama sekali. Dalam hal ini, seorang guru yang kompeten dan
professional diharapkan mampu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan munculnya
kelompok siswa yang menunjukkan gejala kegagalan dengan mengetahui dan
mengatasi faktor yang bisa menghambat proses belajar mereka.[2]
A. FAKTOR-FAKTOR INTERNAL
Dalam membicarakan faktor
internal ini, akan dibahas menjadi tiga faktor, yaitu: faktor jasmaniyah,
faktor psikologis, dan faktor kelelahan.[3]
1.
Faktor Jasmaniyah
a.
Faktor Kesehatan
Kesehatan berasal dari
kata “sehat” yang berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta
bagian-bagiannya atau dengan kata lain bebas dari penyakit.
Seseorang yang mengalami
gangguan kesehatan seperti cepet lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, cepat
ngantuk jika badannya lemah, anemia ataupun gangguan-gangguan yang lain akan
memengaruhi proses belajar sesorang tersebut.
Agar seseorang dapat
belajar dengan baik haruslah menjaga kesehatannya, sengan cara makan yang
teratur, istirahat yang cukup, tidur, olahraga, rekreasi dan ibadah.
b.
Cacat Tubuh
Keadaan fungsi-fungsi
jasmani tertentu, seperti fungsi-fungsi panca indra, lebih-lebih mata dan
telinga mempunyai pengaruh besar sekali dalam belajar. Mungkin orang tidak menolak bila dikatakan bahwa
panca indra adalah pintu gerbang ilmu pengetahuan, hal ini mengingat bahwa
pengenalan dunia luar yang biasa disebut pengamatan, panca indra mempunyai
peranan penting.[4]
Cacat tubuh adalah suatu
yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh / badan. Cacat
itu dapat berupa buta, setengah buta, tuli, setengah tuli, patah kaki, dan
patah tangan, lumpuh dan lain-lain.[5]
Keadaan seperti diatas
dapat mempengaruhi proses belajar siswa yang mengalami cacat, karena mungkin
mereka minder dengan siswa yang lain karena fisik mereka tidak sempurna seperti
siswa yang lain. Jika hal ini terjadi, hendaknya ia belajar pada lembaga
pendidikan khusus, yang sekarang banyak
sekolah atau lembaga pendidikan khusus yang disediakan untuk siswa-siswa yang
mengalami cacat tubuh, yang disebut SLB (Sekolah Luar Biasa).
2.
Faktor Psikologis
Faktor psikologis memiliki
peran yang sangat menentukan di dalam belajar, karena dapat memengaruhi
kuantitas dan kualitas perolehan belajar siswa. Ada tujuh faktor yang tergolong
dalam faktor psikologis, yaitu: intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif,
kematangan dan kelelahan.
a. Intelegensi
Menurut Reber dalam
bukunya yang berjudul “The Penguin Dictionary of Psichology” menyatakan bahwa Intelegensi
pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk mereaksi
rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat.
Sedangkan J.P. Chaplin
merumuskan sebagai berikut:
1) The ability to meet and
adapt to novel situations quickly and effectively.
2) The ability to utilize
abstract concepts effectively.
3) The ability to grasp
relationships and to learn quickly.
Jadi intelegensi itu
adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis, yaitu kecakapan untuk menghadapi
dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif,
mengetahui / menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui
relasi dan mempelajarinya dengan cepat.[6]
Intelegensi ini
berpengaruh besar terhadap kemajuan belajar. Dalam situasi yang sama, siswa
yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada
yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah. Wlaupun begitu siswa yang
mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi belum pasti berhasil dalam
belajarnya. Hal ini disebabkan karena belajar itu sendiri yaitu suatu proses yang kompleks
dengan banyak faktor yang memengaruhinya, sedangkan intelegensi adalah salah
satu faktor diantara faktor lainnya yang
memengaruhi belajar tersebut.
b. Perhatian
Pemusatan tenaga psikis
tertuju pada suatu obyek atau banyak sedikitnya kesadaran yang menyertai
aktivitas yang dilakukan dinamakan
perhatian.[7]
Makin intensif perhatian
belajar makin berhasillah belajar, oleh karenanya materi dan penyampaian
sebaiknya mampu menimbulkan perhatian yang intensif. Dilihat dari cara
timbulnya perhatian bisa dibedakan menjadi:
1) Perhatin spontan
2) Perhatian reflektif
Perhatian jenis pertama
timbul seakan-akan tanpa disengaja, sedang jenis kedua timbul karena usaha.
Perhatian spontan cenderung berlangsung lebih lama dan lebih intensif, maka
guru yang baik senantiasa berusaha agar belajar bisa diterima oleh siswa dengan
perhatian spontan.
Bila dipandang dari luas
obyeknya, perhatian bisa dibagi menjadi:
1) Perhatian konsentratif
2) Perhatian distributif
Guru mempunyai tugas
mengatur lingkungan / kelas sedemikian rupa, sehingga memungkinkan suburnya
perhatian konsentratif dalam setiap proses belajar mengajar berlangsung.[8]
Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka guru diusahakan untuk selalu
mengajarkan bahan pelajaran yang selalu menarik perhatian siswanya agar siswa
tidak mengalami kebosanan, sehingga ia tidak sukar lagin belajar.
c. Minat
Secara sederhana, minat (interst)
berarti kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa
kegiatan. Biasanya, kegiatan yang diminati oleh siswa akan diperhatikan
terus-menerus dan disertai dengan perasaan senang.
Minat ini pengaruhnya
sangat besar terhadap belajar, karena
minat ini biasanya memengaruhi kuaalitas pencapaian hasil belajar siswa dalam
bidang-bidang studi tertentu. Sebagai contohnya yaitu, seorang siswa yang
menaruh minat terhadap pelajaran biologi akan memusatkan perhatiannya lebih
banyak terhadap pelajaran itu daripada
siswa yang tidak menaruh minat terhadap pelajaran biologi tersebut. Karena
pemusatan perhatian yang intensif terhadap materi itulah yang memungkinkan
siswa tadi belajar lebih giat secara senang, dan akhirnya mencapai prestasi
yang diinginkan.
Jika
terdapat siswa yang kurang berminat terhadap belajar, maka guru dapat menjelaskan
hal-hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan yang berkaitan dengan bahan
pelajaran yang dipelajari tersebut yang dimaksudkan agar siswa tersebut
mempunyai minat yang lebih besar.
d. Bakat
Bakat
atau aptitude menurut Hilgard adalah: “the capacity to learn”. Dengan
perkataan lain bakat adalah kemampuan untuk belajar.[9]
Secara umum bakat (aptitude) adalah kemampuan potensial yang dimiliki
seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang (Chaplin,
1972; Reber, 1988). Dengan demikian, sebetulnya setiap orang pasti memilki
bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ke tingkat tertentu
sesuai dengan kapasitas masing-masing.[10]
Dari
uraian di atas dapat dijelaskan bahwa bakat itu memengaruhi belajar. Bakat akan
dapat memengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar terhadap bidang-bidang
studi tertentu. Misalnya seorang siswa yang berbakat dengan bidang tata boga,
akan jauh lebih mudah menyerap informasi, pengetahuan dan ketrampilan yang
berhubungan dengan bidang tersebut dibanding dengan siswa lainnya.
Penting
untuk mengetahui bakat siswa dan menempatkan siswa belajar disekolah yang
sesuai dengan bakatnya. Karena jika tetap memaksakan kehendak yang tidak sesuai
dengan bakat siswa atau siswa itu memiliki ketidaksadaran terhadap bakatnya
sendiri segingga ia memilih jurusan yang sebenarnya bukan bakatnya, maka akan
berpengaruh buruk terhadap kinerja akademik (academic performance) atau
prestai belajarnya.
e. Motif
Motif
sangat erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai. dalam mencapai
tujuan perlu adanya berbuat sesuatu, faktor yang menjadi penyebab berbuat
adalah motif itu sendiri sebagai penggerak / pendorongnya.
Motif boleh jadi timbul
dari rangsangan luar, seperti pemberian hadiah bila seseorang dapat
menyelesaikan satu tugas dengan baik. Motif semacam ini sering disebut motif
ekstrensik. Tetapi tidak jarang pula motif tumbuh di dalam diri subjek didik
sendiri yang disebut motif intrinsik. Misalnya, seorang subjek didik gemar
membaca karena dia memang ingin mengetahui lebih dalam tentang sesuatu.[11]
Dalam
proses belajar haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa agar dapat
belajar dengan baik atau padanya mempunyai motif untuk berpikir dan memusatkan
perhatian, merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang berhubungan / menunjang
belajar. Motif-motif di atas dapat juga ditanamkan pada diri siswa dengan cara
memberikan latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan yang kadang-kadang juga dipengaruhi
oleh keadaan lingkungan.[12]
f. Kematangan
Kematangan
adalah suatu tingkat/fase dalam pertumbuhan seseorang, di mana alat-alat
tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Kematangan belum berarti
anak dapat melaksanakan kegiatan secara terus-menerus, untuk itu diperlukan
latihan-latihan dan pelajaran. Anak yang sudah siap (matang) belum dapat
melaksanakan kecakapannya sebelum belajar, dan belajar juga akan lebih berhasil
jika anak sudah siap (matang). Jadi kemajuan baru untuk memiliki kecakapan itu
tergantung dari kematangan belajar.
g. Kesiapan
Kesiapan
atau readiness menurut Jamies Drever adalah: Preparedness to respond
or react. Kesiapan adalah kesediaan untuk member respons atau bereaksi.[13]
Kesiapan ini perlu diperhatikan dalam proses belajar, karena jika siswa sudah
memiliki kesiapan maka hasil belajarnya akan lebih baik.
3.
Faktor
Kelelahan
Kelelahan dapat dibagi menjadi dua macam,
kelelahan rohani dan kelelahan jasmani.
Kelelahan rohani (bersifat psikis) dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan
kebosanan, sulit berkonsentrasi seolah-olah otak kehabisan daya untuk berpikir.
Kelelahan rohani dapat terjadi terus-menerus memikirkan masalahnyang dianggap
berat tanpa istirahat, menghadapi hal-hal yang selalu sama / konstan tanpa ada
variasi, dan mengerjakan sesuatu Karena terpaksa dan tidak sesuai dengan bakat,
minat dan perhatiannya.
Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah
lunglainya tubuh dan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh. Kelelahan
jasmani terjadi karena terjadi kekacauan substansi sisa pembakaran di dalam
tubuh, sehingga darah tidak / kurang lancar pada bagian-bagian tertentu.
Kelelahan baik secara jasmani maupun rohani
dapat dihilangkan dengan caraa-cara sebagai berikut:
1) Tidur
2) Istirahat
3) Mengusahakan variasi dalam belajar dan bekerja
4) Menggunakan obat-obatan yang bersifat
melancarkan peredaran darah, misalnya obat gosok
5) Rekreasi dan ibadah yang teratur
6) Olahraga secara teratur, dan
7) Mengimbangi makan dengan makanan yang memenuhi
syarat-syarat kesehatan, misalnya yang memenuhi empat sehat lima sempurna
8) Jika kelelahan secara serius cepat-cepat
menghubungi seorang ahli, misalnya dokter, psikiater, konselor dan lain-lain.[14]
B. FAKTOR-FAKTOR EKSTERNAL
1. Lingkungan Sosial
Faktor
lingkungan sosial yaitu meliputi lingkungan sosial sekolah, lingkungan sosial
siswa, dan lingkungan sosial keluarga.
Lingkungan
sosial sekolah yaitu seperti para guru, para tenaga kependidikan (kepala
sekolah dan wakil-wakilnya) dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi semangat
belajar seorang siswa. Para guru yang selalu menunjukkan sikap dan perilaku
yang simpatik dan memperlihatkan suri teladan yang baik dan rajin khususnya
dalam hal belajar, misalnya rajin membaca dan berdiskusi, dapat menjadi daya
dorong yang positif bagi siswa.[15]
Teman-teman sekelas juga dapat memengaruhi belajar seorang siswa, karena teman
biasanya merupakan tempat untuk berbagi rasa dalam tawa maupun duka. Memiliki dan
bergaul dengan teman yang baik dan mempunyai semangat tinggi dalam belajar, membuat
siswa tersebut juga berkeinginan menjadi seperti temannya, yaitu bersemangat
dalam belajar. Namun, memiliki teman yang malas belajar dan suka seenaknya
sendiri bisa jadi membuat teman yang akrab dengannya juga menjadi malas belajar
karena pergaulan dengan orang yang kurang tepat tersebut. Sebaiknya untuk
menyikapi hal ini, seharusnya diadakan belajar kelompok agar siswa yang kurang
bersemangat dalam belajar bisa sedikit terbantu oleh temannya yang memiliki
semangat tinggi dalam belajar.
Yang
termasuk lingkungan sosial siswa adalah masyarakat dan tetangga juga
teman-teman sepermainan di sekitar perkampungan siswa tersebut.[16]
Lingkungan sosial masyarakat dan tetangga juga teman-teman sepermainan yang
mendukung aktifitas belajar siswa akan membuat siswa senang dan bersemangat
dalam belajar, misal seperti diadakan organisasi anak pelajar dalam masyarakat
tersebut guna mengadakan belajar dan diskusi kelompok secara bersama.
Lingkungan
sosial yang terakhir adalah lingkungan sosial orangtua dan keluarga siswa itu
sendiri, lingkungan sosial ini adalah lingkungan sosial yang paling berpengaruh
dalam kegiatan belajar siswa.
Sifat-sifat orang tua, praktik pengelolaan keluarga, ketegangan
keluarga, dan demografi keluarga (letah rumah), semuanya dapat member dampak
baik atau buruk terhadap kegiatan belajar dan hasil yang dicapai oleh siswa.
Contoh: kebiasaan yang diterapkan oleh orangtua siswa dalam mengelola kelarga (family
management practices) yang keliru, seperti
kelalaian orangtua dalam memonitor kegiatan anak, dapat menimbulkan
dampak lebih buruk lagi. Dalam hal ini, bukan saja anak tidak mau belajar
melainkan juga ia cenderung berperilaku menyimpang, terutama perilaku
menyimpang yang berat seperti antisocial (Patterson & Loeber, 1984).
2. Lingkungan Nonsosial
Faktor-faktor
yang termasuk lingkungan nonsosial ini adalah gedung sekolah dan letaknya,
rumah tempat tinggal keluarga dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca
dan waktu belajar yang digunakan siswa.[17]
Gedung
sekolah dapat memengaruhi belajar karena dengan jumlah siswa yang banyak serta
variasi karakteristik mereka masing-masing, maka gedung sekolah juga harus
memadai dalam di dalam setiap kelas agar siswa merasa nyaman untuk belajar.
Letak gedung sekolah juga memengaruhi, diusahakan sekolah jauh dari kebisingan
agar siswa bisa belajar konsentrasi dalam belajar. Rumah tinggal siswa juga
memengaruhi belajar seperti gedung sekolah.
Alat
belajar juga berkaitan dengan belajar siswa. Alat belajar yang lengkap dan
tepat yang diberikan guru kepada siswanya akan memperlancar penerimaan bahan
pelajaran yang diajarkan. Jika siswa mudah menerima pelajaran dan menguasainya,
maka belajarnya akan lebih giat dan nanti siswa tersebut akan lebih maju.
Cuaca
dan iklim yang sekarang sering berubah-ubah dapat memengaruhi kesehatan siswa,
dan secara tidak langsung juga memengaruhi belajar siswa. Cuaca mendung dan
hujan saat siswa mau berangkat ke sekolah bisa jadi membuat siswa enggan
berangkat, atau ada juga siswa yang bersemangat dalam belajar tetap berangkat
ke sekolah walau dengan atau tanpa pelindung dari hujan (payung atau jas
hujan). Dan hujan ini dapat membuat kesehatan menurun terhadap siswa yang
antibodynya kurang.
Khusus mengenai waktu yang disenangi untuk
belajar (study time preference) seperti pagi atau sore hari, seorang
ahli bernama J. Biggers (1980) berpendapat bahwa belajar pada pagi hari lebih
efektif daripada belajar pada waktu-waktu lainnya. Namun, menurut penelitian
bebrapa ahli learning style (gaya belajar), hasil belajar itu tidak
bergantung pada waktu secara mutlak, tetapi bergantung pada pemilihan waktu
yang cocok dengan kesiapsiagaan siswa (Dunn et al, 1986). Di antara siswa ada
yang setiap belajar pada pagi hari, ada pula yang siap pada sore hari, bahkan
tengah malam. Perbedaan antara waktu dan kesiapan belajar inilah yang
menimbulkan perbedaan study time preference antara seorang siswa dengan
siswa lainnya. Akan tetapi, menurut hasil penelitian mengenai kinerja baca (reading
performance) sekelompok mahasiswa di sebuah universitas di Australia
Selatan, tidak ada perbedaan yang berarti antara hasil membaca pada pagi hari
dan hasil membaca pada sore hari. Selain itu, keeratan korelasi antara study
time preference dengan hasil membaca pun sulit dibuktikan. Bahkan mereka
yang lebih senang belajar pada pagi hari dan dites pada sore hari, ternyata
hasilnya tetap baik. Sebaliknya, ada pula di antara mereka yang lebih suka
belajar pada sore hari dan dites pada saat saat yang sama, namun hasilnya tidak
memuaskan (Syah, 1990). Dengan demikian, waktu yang digunakan siswa untuk
belajar yang selama ini sering dipercaya berpengaruh terhadap prestasi belajar
siswa, tak perlu dihiraukan. Sebab, bukan waktu yang penting dalam belajar
melainkan kesiapan system memori siswa dalam menyerap, mengelola, dan menyimpan
item-item informasi dan pengetahuan yang dipelajari siswa tersebut.[18]
IV. KESIMPULAN
Faktor-faktor yang memengaruhi belajar siswa
itu terdiri dari 2, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal
yaitu faktor yang ada dalam individu yang sedang belajar. Sedangkan faktor
internal adalah faktor yang ada di luar individu yang sedang belajar.
Faktor internal yang memengaruhi belajar
meliputi: Faktor jasmaniyah (faktor kesehatan dan cacat tubuh), faktor
psikologis (intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan
kesiapan), dan faktor kelelahan.
Sedangkan faktor eksternal yang memengaruhi
belajar meliputi: lingkungan sosial dan lingkungan nonsosial. Faktor-faktor
tersebut saling berkaitan dan saling memengaruhi belajar siswa.
V. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat
Penulis susun, apabila terdapat kesalahan, maka kritik dan saran yang sifatnya
membangun sangat Penulis harapkan untuk pertimbangan dalam penyusunan makalah
selanjutnya dikemudian hari, karena Penulis sadari bahwa makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca pada
umumnya dan bagi Penulis pada khususnya. Amiiin.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.andragogi.com/document/psikologi_pendidikan.htm
Mustaqim. Psikologi pendidikan. Yogyakarta:
Pustaka Belajar. 2001.
Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan dengan
Pendekatan Baru. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya. 2010.
Slameto. Belajar & Faktor-faktor yang
Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. 2010.
Suryabrata, Soemadi. Psykologi Belajar. Yogyakarta: Sumbangsih. 1969.
Whetherington, H.C.. Educational Psycology. terjemahan
M. Buchori. Jakarta: Aksara Baru. 1982.
[1] H.C. Whetherington, Educational
Psycology, terjemahan M. Buchori, Aksara Baru, Jakarta, 1982, hal. 10.
[2] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan
Pendekatan Baru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010) hlm. 129-130
[3] Slameto, Belajar & Faktor-faktor yang
Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta, 2010) hlm. 54
[4] Mustaqim, Psikologi pendidikan,
(Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2001) hlm. 70
[6] Slameto, Op. Cit., hlm. 55-56
[7] Soemadi Suryabrata, Psykologi Belajar, (Yogyakarta:
Sumbangsih, 1969)
[8] Mustaqim, Op. Cit., hlm. 72-73
[9] Slameto, Op. Cit.,
hlm. 57
[10] Muhibbin Syah, Op.
Cit., hlm. 133
[11] http://www.andragogi.com/document/psikologi_pendidikan.htm
[12] Slameto, Op. Cit.,
hlm. 58
[13] Ibid, hlm. 59
[14]Ibid, hlm. 60
[15]Muhibbin Syah, Op. Cit.,
hlm. 135
[16] Ibid, hlm. 135
[17] Ibid, hlm. 135
[18] Ibid, hlm. 136

Tidak ada komentar:
Posting Komentar